Benarkah Manusia Dapat Mencapai Kecepatan Cahaya dan Pergi ke Masa Depan

Posted on

benarkah manusia dapat mencapai kecepatan cahaya dan pergi ke masa depan

Menurut Einstein, suatu obyek hanya bisa bergerak mendekati kecepatan cahaya bukan melebihi. Untuk mencapai kecepatan cahaya membutuhkan energi yang sangat besar dalam jumlah takhingga.  

Konsep kecepatan yang dikemukakan Einstein dalam teori relativitas khusus telah menjadi patokan ilmu pengetahuan selama ini. Kecepatan cahaya bersifat absolut dengan besar 299.792 kilometer per detik atau biasanya dibulatkan menjadi 300.000 kilometer per detik.

Besar kecepatan cahaya tersebut adalah capaian maksimal yang dapat dilakukan semua obyek di alam semesta ini dan tidak dapat melebihinya. Jangankan melebihinya, mencapai kecepatan cahaya saja menjadi hal yang hampir mustahil karena akan membutuhkan energi yang sangat besar bahkan takhingga. Sedangkan mengacu pada hukum kekekalan energi bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, yang berarti bahwa energi sudah tersedia dalam jumlah tertentu bukan jumlah takhingga.

Namun dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern ini, banyak pemikiran yang mengarah pada kemungkinan suatu obyek dapat mencapai kecepatan cahaya bahkan melebihinya.

Pada teori relativitas khusus, kecepatan bersifat absolut sedangkan ruang-waktu-jarak bersifat relatif terhadap acuannya.

Bila kalian pernah lihat fim Interstellar, mungkin diantara kalian ada yang bingung dengan peristiwa di film tersebut. Memang untuk memahami film Interstellar minimal harus memahami tentang fisika konsep ruang-waktu. Jadi inti ceritanya, ada dua orang yaitu ayah yang bernama Cooper dan anak yang bernama Murphy, yang harus berpisah karena Cooper menjalani misi ke luar angkasa mencari planet pengganti bumi yang sudah tidak layak huni. Pada saat Cooper meninggalkan Murphy, usianya terpaut jauh karena Murphy masih usia anak-anak. Setelah Cooper menjalani misinya beberapa waktu di luar angkasa, kemudian saat kembali ke bumi ternyata Murphy sudah berusia lebih tua daripada Cooper.

Film tersebut menunjukkan pada kita bahwa perjalanan dengan kecepatan tinggi akan membuat waktu menjadi berbeda. Cooper mungkin hanya pergi beberapa waktu tidak sampai puluhan tahun, namun bagi Murphy yang berada di bumi waktu terasa sangat lama bahkan sampai ia menjadi tua.

Kita misalkan perbandingan waktu Cooper dan Murphy:

1 hari Cooper di luar angkasa = 7 tahun Murphy di Bumi

10 hari Cooper di luar angkasa = 70 tahun Murphy di Bumi

Dari situ kita juga bisa menyimpulkan bahwa Cooper telah melakukan perjalanan ke masa depan, dalam 10 hari perjalanannya ia telah melewati 70 tahun waktu Bumi.

Menurut Stephen Hawking, manusia suatu saat bisa menjelajah jutaan tahun ke masa depan untuk memperbaiki peradaban Bumi yang sudah hancur.

Hawking, ilmuwan unik yang sering melontarkan pernyataan yang kontroversi kembali mengatakan hal yang membuat kita berpikir tentang… Benarkah?…. Bagaimana bisa?

Ia menyampaikan bahwa suatu saat akan ada pesawat luar angkasa yang dapat terbang mencapai kecepatan cahaya. Sehingga satu hari perjalanan di luar angkasa sama dengan setahun di Bumi. Namun pesawat luar angkasa tersebut harus menempuh waktu 6 tahun untuk mencapai kecepatan cahaya tersebut.

Intinya manusia akan dapat pergi ke masa depan. Namun menurutnya manusia hanya dapat ke masa depan dan mustahil ke masa lalu karena masa lalu adalah produk dari peristiwa sebab-akibat yang sudah terjadi.

Hawking yang sampai saat ini masih hidup meski lumpuh total dan dibantu dengan komputer untuk bisa komunikasi, sangat terobsesi dengan perjalanan waktu, bahkan ia ingin menemui Galileo bila manusia dapat pergi ke masa lalu.

Teknologi Warp Drive seperti pada Film Star Trek memungkinkan pesawat terbang melebihi kecepatan cahaya.

Toeri Einstein mengenai kecepatan cahaya yang absolut berpotensi dilanggar oleh ilmuwan-ilmuwan modern saat ini. Salah satunya penemuan baru tentang subatom bernama Neutrino, partikel yang sangat-sangat kecil hampir mendekati nol ini ternyata mempunyai kecepatan yang dapat menyamai kecepatan cahaya. Salah satu riset yang dilakukan oleh peneliti dari CERN Swiss dan juga ICARUS di lokasi yang sama ternyata membuktikan bahwa Neutrino yang kekal dan tembus materi apapun ini mempunyai kecepatan sama dengan kecepatan cahaya.

benarkah manusia dapat mencapai kecepatan cahaya dan pergi ke masa depan

Ada lagi teori yang berpotensi melanggar teori Einstein yaitu mengenai teknologi Warp yang pertama kali dikemukakan oleh Fisikawan Meksico Miguel Alcubierre. Warp Drive adalah sebuah sistem pada propulsi teoritis yang memungkinkan untuk mencapai kecepatan lebih cepat dari cahaya. Istilah ini dipopulerkan oleh film Star Trek (yang tentunya penjelasan menurut ilmuwan tidak se-simple itu). Warp Drive akan memanipulasi ruang-waktu untuk memindahkan pesawat ruang angkasa.

Para peneliti NASA pun telah mulai meneliti teori yang didasarkan pada teorinya Alcubierre tersebut. Konsepnya adalah sebuah pesawat luar angkasa dengan teknologi tertentu akan menyebabkan ruang-waktu melengkung di sekitar pesawat. Daerah di depan pesawat berkontraksi seperti ruang menjadi terbuka sehingga pesawat dapat bergerak maju sedangkan daerah di belakang pesawat ruangnya mengembang sehingga dapat mendorong pesawat menjauh dari tempat asal. Dengan konsep ini, maka pesawat akan mampu bergerak 10 kali lebih cepat dari cahaya tanpa melanggar batas kecepatan kosmik.

Meskipun untuk mewujudkan Warp Drive tersebut butuh waktu yang sangat lama, namun bila hal itu benar-benar terwujud maka manusia akan dapat terbang antar galaksi dengan cepat dalam hitungan hari bahkan jam saja. Dan bayangan kita tentang film Star Trek atau Star Wars jadi kenyataan.

Apapun itu, meski semuanya baru sebatas pemikiran-teori-penelitian, namun semua yang dapat dipikirkan manusia ada kemungkinan juga dapat diwujudkan. Karena batas alam semesta ini terwujud dalam batas pikiran manusia. 

6 thoughts on “Benarkah Manusia Dapat Mencapai Kecepatan Cahaya dan Pergi ke Masa Depan

  1. Rasanya badan jasmani manusia menjadi faktor yang menyulitkan. Tetapi ide “manusia dapat mencapai kecepatan cahaya” itu logis. Bahkan, saya berpikir bahwa manusia dapat bergerak “di atas” kecepatan cahaya. Jangankan manusia, semut yang kecepatan geraknya, katakannlah 0,7 km/jam, pun dapat bergerak “di atas” kecepatan cahaya. Bagaimana menalarinya?

  2. Sebetulnya hanya candaan dalam logika sains. Bukan hanya dapat bergerak “di atas” kecepatan cahaya, semutpun dapat membuat percepatan terhadap cahaya ataupun kereta api sehingga kecepatan mereka menjadi = 0 terhadapnya. Juga ada kemungkinan bahwa kecepatan cahaya bukan kecepatan maksimum (baca: tertinggi) di alam semesta.
    Inilah yang menjadi rangkaian jawaban saya berikut ini. Moga ada manfaatnya, setidaknya meramaikan diskusi.

    1. Mungkinkah Gerak dan Kecepatan Semut di atas Gerak dan Kecepatan Cahaya?
    Kecepatan rotasi Bumi terhadap porosnya adalah 465 m/s, (1.674,4 km/jam) dan kecepatan revolusi Bumi terhadap Matahari 29.861 m/s (107.500 km/jam). Di permukaan Bumi ini bergerak sebuah Kereta Api dengan kecepatan 22,22 m/s (80 km/jam). Di dalam gerbong kereta api itu Manusia berjalan-jalan dengan kecepatan m/s (3,6 km/jam). Ada pula seekor Semut yang berjalan-jalan di baju Manusia dengan kecepatan 0,02 m/s (72 m/jam).

    vK (Kereta Api) = vRot. Bumi + vRev.Bumi + vK = 465 + 29.861 + 22,22 = 30.348,22 m/s
    vM (Manusia)= vK + vM= 30.348,22 + 1 = 30.349,22 m/s
    vS (Semut) = vM + vS = 30.349,22 + 0,02 = 30.349,24 m/s

    Terapkan logika itu pada kecepatan cahaya c. Bayangkan planet Bumi sebagai partikel cahaya yang kecepatan rambatannya di ruang hampa adalah c = 300.000.000 m/s (300.000 km/s = 1,8 milyar km/jam). Taruhlah Kereta Api, Manusia, dan Semut di dalam partikel cahaya itu bersama kecepatannya masing-masing. Anda akan temukan bahwa, dalam urutan kecepatan, Semut bergerak di atas vM, vK dan c, Manusia bergerak di atas vK, dan c, akhirnya Kereta Api bergerak di atas c. Dengan perkataan lain, Kereta Api, Manusia, dan Semut, sebagai benda-benda lain yang bukan partikel cahaya dan memiliki kecepatan yang sangat jauh di bawah c, ternyata dapat bergerak di dalam dan di atas c. Yang berada di puncak piramida kecepatan itu adalah vSemut. Dalam hal ini, oleh karena Semut, Manusia, dan Kereta Api telah menjadi bagian integral partikel cahaya (dengan menumpanginya), maka c telah menjadi v mereka. Oleh sebab itu c = vSMK atau sebaliknya vSMK = c.

    Menumpangi atau mengendarai berarti pula suatu tindakan “persesuaian inersia” antara inersia pengendara dan inersia kendaraan. Keadaan (diam atau bergerak) Anda dipertahankan dalam kesesuaian dengan keadaan (diam atau bergerak) kendaraan Anda. Persesuaian inersia ini menjelaskan relativitas gerak suatu benda terhadap Anda sebagai yang sedang dalam (turut dalam) suatu gerak dan Anda sebagai pengamat yang berada di luar gerak itu.

    Si Semut ada di dalam tiga kecepatan sekaligus yakni c, vK, dan vM. Artinya ia sekaligus berada di dalam tiga ruang-waktu yang bebeda. Manusia ada di dalam dua kecepatan sekaligus yakni c, dan vK. Artinya ia sekaligus berada di dalam dua ruang-waktu yang bebeda. Kereta Api ada di dalam satu kecepatan yakni c. Artinya ia berada di dalam satu ruang-waktu yang berbeda pula. Piramida Kecepatan yang sama dengan Piramida Ruang-Waktu, menunjukkan keterhubungan ruang-waktu para subyek. Hal ini pun merupakan relativitas ruang-waktu.

    2. Mungkinkah seekor semut membuat percepatan (mengubah kecapatan) sesuatu yang massa, dan atau kecepatannya (F [N] = m.a) jauh lebih besar dari massa dan kecepatannya sendiri, menjadi v = 0 atau c = 0 terhadap dirinya, bahkan tanpa menggunakan suatu gaya?
    Percepatan, yang artinya pengubahan kecepatan benda, tidak selalu dengan menggunakan gaya. Bagaimanakah seekeor semut yang massa dan percepatannya atau gayanya (F = m.a) ataupun energi kinetiknya (½ mvS2) sedemikian sepele, sehingga dapat saja diabaikan, dapat mengubah kecepatan Manusia (vM = 1,0 m/s), atau Kereta Api (vK = 22,22 m/s) atau kecepatan Cahaya (c = 300.000.000 m/s ) menjadi v = 0 atau c = 0 terhadapnya? Cara satu-satunya hanya dengan “menumpangi” atau “mengendarai” mereka, maka semut itu telah berhasil membuat percepatan yang mengubah kecepatan mereka menjadi v = 0 atau c = 0 terhadapnya tanpa suatu gaya yang lebih besar (semut tidak perlu memenuhi Hukum II Newton ∑F = ma dalam melakukan suatu percepatan terhadap sesuatu di luar dirinya).

    3. Adakah Kemungkinan Kecepatan Cahaya Bukan Kecepatan Maksimum di Alam Semesta?
    Pada umumnya orang berpendapat bahwa kecepatan (kelajuan) cahaya merupakan kecepatan maksimum (tidak ada kecepatan yang lebih besar dari kecepatan cahaya) yang dapat dilajui oleh segala bentuk energi, materi, dan informasi dalam alam semesta. Hal ini didasarkan pada postulat kedua Einstein, bahwa kecepatan cahaya adalah sama untuk semua pengamat dan tidak bergantung pada gerak sumber cahaya maupun kecepatan pengamat. Namun, jika memperhatikan kasus di atas, bahwa seekor semut bergerak di atas kecepatan cahaya, maka patut diduga bahwa cahaya pun bergerak di atas suatu kecepatan tertentu yang lain. Artinya, cahaya merupakan suatu partikel “pengendara” entitas lain. Dengan kata lain, jika cahaya berada di luar entitas tumpangannya maka, dari sudut pandang partikel cahaya sebagai acuan, kecepatan entitas itu jauh di atas kecepatan cahaya, sama seperti perbedaan relatif kecepatan semut dan kecepatan cahaya. Dalam pengertian ini, kecepatan cahaya bukan kecepatan maksimum di alam semesta.

    1. Komen Anda mungkin bisa menjadi satu artikel yg menarik. Mungkin butuh penelitian lebih lanjut mengenai maksud entitas lain yg menjadi tumpangan cahaya, entitas itu dalam bentuk apa.Dan harusnya juga ada teori baru yg melebihi teorinya Einstein yg dapat menjelaskan mengenai entitas lain itu.

  3. Stephen Hawking mau bertemu dengan Galileo di masa lampau, atau bertemu dengan sesuatu yang belum aktual di masa depan, dengan kecepatan cahaya? Tulisan Anda mengenai gagasan ini amat menarik, baik secara fisika maupun metafisika. Menyenangkan! Terima kasih Bro.

  4. MENINJAU POSTULAT KEDUA EINSTEIN
    DAN
    FOTON SEBAGAI ENTITAS TUMPANGAN PARTIKEL CAHAYA
    Oleh: Feliks V. Leunufna

    Meninjau Postulat Kedua Einstein
    Postulat kedua Einstein mengenai kecepatan cahaya berbunyi: kecepatan cahaya adalah sama untuk semua pengamat dan tidak bergantung pada gerak sumber cahaya maupun kecepatan pengamat, perlu ditinjau konsistensinya, juga terkait dengan persamaannya sendiri, yaitu E = mc2.

    Mengenai kecepatan cahaya adalah sama untuk semua pengamat… dan tidak bergantung pada… kecepatan pengamat. Bahwa seorang atau sesuatu yang disebut pengamat serta kegiatan pengamatannya terhadap kecepatan cahaya dapat berupa suatu keadaan di luar atau di dalam partikel cahaya. Kedua keadaan ini dapat menjadi acuan gerak-kecepatan cahaya. Semut tersebut di muka (pada tulisan sebelumnya), sebagai pengamat yang berada di luar partikel cahaya, akan mengalami kecepatan cahaya c = 300.000.000 m/s terhadapnya. Bahkan saat berada di dalam kabin partikel cahaya pun, cahaya lain dari sumber yang berbeda akan dialami si semut (pengamat yang berkedudukan di luar partikel cahaya lain itu) sebagai suatu kecepatan c = 300.000.000 m/s. Akan tetapi apakah hasil pengamatan si semut terhadap kecepatan partikel cahaya yang dikendarainya, terhadap dirinya sendiri, sebagai pengamatnya? Ada dua kemungkinan. Pertama, bahwa c = 0 terhadap si semut. Ini disebabkan oleh keadaan semut sebagai “pengamat dalam” kecepatan cahaya (yang mengendarai cahaya) telah mengalami persesuaian keadaanya dengan keadaan cahaya sehingga kecepatan cahaya itu telah menjadi kecepatannya sendiri. Kedua, bahwa jika aktivitas pengamatan si semut dilakukannya sambil berjalan-jalan di dalam “kabin” partikel cahaya, di mana kecepatan jalan-jalan itu adalah vSemut = 0,02m/s, maka dapat dikatakan bahwa vSemut > c (kecepatan si semut lebih besar atau ada di atas kecepatan cahaya) kendaraanya. Kecepatan cahaya c = 300.000.000 m/s yang dikendarainya telah menjadi c = 0 terhadapnya, dan sekarang kecepatan semut terhadap kecepatan cahaya adalah 0,02 m/s. Dalam hal ini ∑vSemut = c + vSemut = 300.000.000 m/s + 0,02m/s, maka ∑vSemut = 300.000.000.02 m/s. Benar dan tidaknya analisis ini serta kesimpulannya, kembali lagi kepada Einstein: relatif, tergantung dari mana atau bagaimana Anda memahaminya.

    Mengenai kecepatan cahaya … tidak bergantung pada gerak sumber cahaya … Bahwa postulat Einstein ini mengandaikan suatu penegasian terhadap gerak sumber cahaya sebagai sumber atau penyebab kecepatan cahaya. Memang benar bahwa sebuah lampu senter tidak bergerak terhadap kepala pemakainya atau kecepatan vSenter = 0 terhadap kecepatan vpemakai. Akan tetapi kita tahu pula bahwa cahaya yang dipancarkan dari senter itu merupkan hasil konversi energi dari kimia baterai menjadi panas yang kemudian menjadi cahaya. Seberapa cepatkah partikel-partikel elektrik kimia baterai berubah (= bergerak) menjadi partikel-partikel panas? Seberapa cepat pula partikel-partikel panas itu berubah (= bergerak) menjadi partikel-partikel cahaya? Tidakkah masuk akal juga bahwa kecepatan cahaya merefleksikan (mencerminkan) kecepatan perubahan-perubahan (= pergerakan-pergerakan) itu? Lantas, bagaimana pula dengan konstanta kecepatan cahaya c = 300.000.000 m/s? yang artinya adalah suatu tetapan yang tidak memungkinkan cahaya menjangkau keadaan di luar jangkauan kecepatannya sendiri? Jika rasio dapat menerima kecepatan cahaya sebagai suatu refleksi atas kecepatan perubahan-perubahan (= pergerakan-pergerakan) energi internal sumber cahaya dimaksud, maka itu berarti kecepatan cahaya bergantung pada gerak (= perubahan) sumber cahaya.

    Persamaan Einstein yang terkenal E = mc2, tidak hanya menyangkut pertalian energi-massa yang berkonsekuensi lahirnya pemahaman kekekalan energi-massa. Persamaan ini lebih jauh mengandaikan energi-massa sebagai sumber cahaya dan kecepatannya. Pemikiran proses-organisme berpendapat bahwa konsekuensi dari menjadi aktual, yang berarti masuk dalam ruang-waktu, adalah terbatas. Keterbatasan sesuatu berarti pula ketergantungan sesuatu itu pada sesuatu yang lain, baik di dalam maupun di luar dirinya. Jadi, cahaya bersama kecepatannya yang sudah konstan itu, bergantung pada sumbernya yang adalah energi-massa. E = mc2 di samping berarti kesamaan energi-massa dengan kwadrat kecepatan cahaya yang menghasilkan kekuatan dasyat nuklir, persamaan itu dapat diartikan pula sebagai kesamaan nilai kecepatan cahaya dengan nilai kecepatan energi-massa sumbernya. Setiap kecepatan merupakan hasil percepatan. Percepatan dilakukan oleh gaya, dan oleh karena kecepatan merupakan hasil percepatan, maka kecepatan adalah hasil kerja gaya. Dengan demikian, persamaan Einstein tidak harus berlaku di luar Hukum II Newton yang dinyatakan dalam persamaan a = ∑/m atau ∑F = ma yang pada intinya, dalam kaitan ini, gaya harus lebig besar dari massa benda. Bukankah partikel cahaya memiliki massa?

    Foton adalah Entitas Tumpangan Partikel Cahaya
    Sebuah partikel yang erat kaitannya dengan cahaya adalah foton. Fisika mengajarkan bahwa foton adalah partikel yang tidak memiliki massa, atau massa foton = 0. Sejauh ini belum ada kejelasan fisika bagi saya mengenai apakah dengan tidak bermassa, maka foton pun tanpa inersia? Namun, saya menduga bahwa foton berinersia. Karena tanpa inersia foton kehilangan alasannya untuk terus bergerak (dalam hal ini keadaan gerak foton sama seperti keadaan gerak rotasi dan revolusi planet-planet terhadap Matahari, yang saya anggap sebagai akibat inersia masing-masing). Oleh sebab itu, tidak memiliki massa berarti tidak ada ukuran terhadap inersia foton. Mengapa demikian? Ya, oleh karena foton tidak pernah berhenti bergerak, kecuali terjadi tabrakan yang menyebabkan kehancurannya. Gerak foton dapat terhenti hanya oleh akhir eksistensinya sendiri.

    Radiasi elektromagnetik, selain berupa gelombang radio dan sinar x, juga berupa cahaya. Foton adalah pembawa radiasi elektromagnetik tersebut. Dalam konteks bahasan ini, hal itu berarti foton adalah partikel pembawa cahaya. Foton adalah partikel tak bermassa yang membawa partikel cahaya yang bermassa, yang lahir dari peristiwa elektromagnetik entah terjadi di Matahari, lampu senter, dan lain sebagainya. Dalam hal kecepatan, dikatakan pula oleh fisika bahwa foton bergerak dalam kecepatan cahaya. Jadi, untuk membawakan partikel cahaya dari Matahari ke Bumi, misalnya, foton bergerak dalam kecepatan cahaya. Namun demikan, mengingat masih adanya “dualisme cahaya-foton,” yang berarti belum ada kejelasan pemilahan antara kecepatan cahaya dan kecepatan foton, maka pertanyaannya adalah: Foton berkecapatan cahaya, ataukah partikel cahaya berkecepatan foton? Oleh sebab itu pula saya berpendapat bahwa yang benar adalah “partikel cahaya berkecepatan foton.” Hal ini menegaskan maksud saya bahwa, entah cahaya dapat bergerak dengan kecepatan mandiri, atau tidak, jika lepas dari foton, tetapi yang pasti foton adalah entitas tumpangan partikel cahaya. Sebuah jet tempur F-16 yang sedang menjadi kargo sebuah kapal laut tidaklah lebih cepat daripada kapal yang ditumpanginya. Biasanya penumpang tidak lebih cepat dari tumpangan, atau setidaknya ia menyesuaikan kecepatannya dengan kecepatan tumpangan. Bahwa foton adalah tumpangan partikel cahaya, ditinjau dari segi kecepatan, semakin diperkuat oleh salah satu fakta unik foton, yakni kemampuannya untuk bergerak malampau kecepatan cahaya teristimewa saat sedang berada dalam kejadian-kejadian radiasi nuklir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *