[REVIEW FILM] Wiro Sableng 212 : Pantas Diapresiasi tapi Masih dibawah Ekspektasi

Posted on

wiro sableng

Film yang telah ditunggu-tunggu oleh para penggemar superhero akhirnya tayang juga. Inilah film legendaris Indonesia yang merupakan superhero asli Indonesia dengan kekhasannya, Wiro Sableng Kapak Maut Naga Geni 212. Film yang sejak awal digadang-gadang memberikan warna baru di bioskop-bioskop Indonesia yang akhir-akhir ini dipenuhi oleh film Superhero Marvel dan DC.

Apalagi kabar awal pembuatan film ini yang bekerjasama dengan 20th Century Fox, membuat calon penonton yang haus akan film superhero asli Indonesia menjadi berekspektasi tinggi. Banyak yang membayangkan kualitas film ini baik dari segi cerita atau setting latar dan efek visualnya akan mampu menyaingi film Marvel dan DC.

Film yang diadaptasi dari novel Bastian Tito yang ternyata juga ayah dari Vino Bastian sebagai pemeran Wiro Sableng ini menjadi pelopor film superhero Indonesia saat ini. Diyakini setelah kemunculan Wiro Sableng, akan muncul film-film lainnya seperti Si Buta dari Goa Hantu dan Gundala Putra Petir.

Bisa dibilang kualitas film Wiro Sableng ini masih dibawah ekspektasi bila kita menyamakan dengan Superhero Marvel dan DC. Namun bila dibandingkan dengan film dalam negeri, tentu ini adalah film yang sangat bagus dengan kualitas diatas rata-rata film Indonesia.

Dari segi cerita, meski kekuatan cerita dalam film yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini dirasa kurang greget, namun alurnya mengalir dengan baik. Dimulai dari latar belakang Wiro kecil yang akhirnya menjadi Wiro Sableng setelah diasuh oleh gurunya Sinto GendengGuyonan ringan sepanjang film ini sedikit banyak dapat memperbaiki mood penonton yang mulai menurun. Pengenalan karakternya juga mengalir dengan baik tanpa ada kesan dipaksakan. Walaupun ada beberapa karakter yang kurang tereskplore dengan baik, mungkin karena ada banyak karakter yang harus diperkenalkan di film ini. Bahkan saya masih bertanya-tanya tentang Bidadari Angin Timur, datangnya dari mana dan mengapa tiba-tiba muncul di saat-saat genting saja. Mungkin jawabannya nanti ada di sekuel film selanjutnya.

wiro sableng

Dari segi action, dengan bergabungnya Yayan Ruhian sebagai alumni The Raid dalam film ini memunculkan ekspektasi tinggi dalam pertarungan. Namun sayangnya hal itu juga masih dibawah ekpektasi. Sayang sekali film ini dibuka dengan pertarungan antara Mahesa Birawa (Yayan Ruhiyan) dengan Ranaweleng (Marcell Siahaan) yang terlihat sangat tidak imbang. Ranaweleng yang merupakan ayah Wiro ini bertarung seperti orang yang tidak pernah melatih pukulan, terlihat sangat kaku, dan hal ini langsung membuat penonton sedikit kecewa di awal film. Ada juga pertarungan yang sangat menghibur yaitu saat Wiro Sableng singgah di warung dan bertarung dengan gerombolan pimpinan Kalingundil (Dian Sidik), seperti inilah seharusnya ciri khas tarungnya Wiro yang Sableng. Pertarungan akhir antara Wiro Sableng dengan Mahesa Birawa juga berakhir antiklimaks, yang jelas jangan berharap pertarungan apik seperti dalam film The Raid karena ini memang bukan jenis film seperti itu. Namun secara umum action dalam film ini sudah memenuhi kriteria yang bagus.

Baca Juga : Inilah 20 Superhero Marvel yang Tampil di Avengers: Infinity War

Dari segi pemeran karakter, film ini memang sangat cocok diperankan oleh Vino Bastian. Tidak usah diragukan lagi kemampuan peran dari Vino yang selalu total dalam film yang dibintanginya. Kali ini karakter Wiro yang Sableng yang tidak pernah terlihat serius meski sedang bertarung pun dapat terlihat luwes. Ahmad Alfarizi yang memerankan Bujang Gila Tapak Sakti juga dapat mendukung penampilan Vino. Namun karakter lain dirasa masih kurang, apalagi Anggini yang diperankan oleh Sherina Munaf terlihat sangat kaku dan tidak maksimal. Entah apa yang terjadi dengan Sherina yang sejak kecil sudah terbiasa menjadi bintang film. Dan satu lagi karakter Mahesa Birawa yang sangat baik diperankan oleh Yayan Ruhiyan, kemampuan akting nya terlihat memiliki kualitas lebih dibanding yang lain. Meski Yayan Ruhiyan adalah pendatang baru di film, namun kemampuan aktingnya mengalir dan bernyawa, mungkin ini buah pengalamannya pernah bermain di film Internasional sekelas Hollywood. Saya pikir Yayan Ruhiyan adalah penyelamat film Wiro Sableng yang mampu mengangkat nilai film ini.

Dari segi efek visual dan efek suara, seperti halnya film superhero Marvel dan DC, kualitas efek visual atau CGI (Computer Graphic Image) menjadi nyawa dalam film tersebut. Dibandingkan film dalam negeri yang lain, Wiro Sableng ini merupakan film dengan CGI terbaik. Efek visualnya tidak memaksakan diri dan pas sesuai kebutuhan saja. Meski ada sedikit kekurangan, namun untuk sekelas film dalam negeri, efek visual seperti ini menjadi bukti kemajuan film Indonesia. Kita pantas optimis bahwa ke depan film Indonesia akan memiliki efek visual yang semakin bagus. Selain efek visual, efek suara di Wiro Sableng ini juga mantap sehingga membuat film ini lebih hidup.

Secara umum film Wiro Sableng sangat patut diapresiasi dan mampu membawa angin segar di perfilman Indonesia yang biasanya diisi film genre horor dan cinta-cintaan saja. Kabarnya Wiro Sableng merupakan film pembuka dari film-film selanjutnya alias semesta Wiro Sableng. Patut kita tunggu sekuel film selanjutnya dan berharap dengan efek visual yang semakin baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *